1. Jiwa Keikhlasan
Jiwa keikhlasan berarti melakukan segala sesuatu dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan atau keuntungan duniawi. Setiap tindakan dilakukan semata-mata sebagai bentuk ibadah kepada Allah (lillah). Para kyai mengajar dengan ikhlas, para pembantu kyai membantu dengan tulus, dan santri juga menerima pendidikan dengan hati yang ikhlas.
Nilai ini menciptakan hubungan harmonis antara kyai dan santri, di mana kyai dihormati, dan santri menjalani pendidikan dengan penuh dedikasi. Jiwa ini juga mendorong para santri untuk siap berjuang di jalan Allah di mana pun mereka berada.
2. Jiwa Kesederhanaan
Hidup sederhana di pondok tidak berarti hidup pasif atau menerima nasib apa adanya, juga bukan berarti miskin. Kesederhanaan mengandung kekuatan, ketabahan, dan kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi tantangan hidup.
Dari kesederhanaan inilah muncul mentalitas yang kuat, keberanian untuk maju, dan pantang menyerah dalam berbagai kondisi. Kesederhanaan menjadi landasan dalam membentuk karakter santri yang tangguh dan siap menghadapi tantangan dalam setiap aspek kehidupan.
3. Jiwa Berdikari
Kemandirian atau kemampuan untuk berdiri sendiri menjadi nilai penting yang diajarkan kepada para santri di Pondok Pesantren Condong. Jiwa berdikari ini bukan hanya tentang kemampuan santri untuk mengurus kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga menunjukkan kemampuan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan untuk tidak bergantung pada bantuan dari pihak lain.
Semua kegiatan di pondok dikelola oleh kyai dan santri sendiri, tanpa pegawai atau staf luar. Prinsip ini dikenal dengan istilah Zelp Bedruiping System, yaitu saling mendukung dan mengelola kebutuhan bersama dengan mandiri.
4. Jiwa Ukhuwah Islamiyah
Kehidupan di Pondok Pesantren Condong dipenuhi dengan semangat persaudaraan yang kuat di antara para santri. Rasa kebersamaan dalam suka dan duka memperkuat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak hanya terbatas selama mereka berada di pondok, tetapi juga meluas ketika mereka sudah terjun ke masyarakat.
Ikatan persaudaraan ini membangun rasa solidaritas dan mendorong persatuan umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, menciptakan generasi yang mampu menjaga dan memelihara hubungan baik di tengah-tengah komunitas.
5. Jiwa Kebebasan
Jiwa kebebasan mencakup kebebasan berpikir, bertindak, menentukan masa depan, serta memilih jalan hidup tanpa terpengaruh hal-hal negatif dari luar. Kebebasan ini membuat para santri menjadi individu yang berani, optimis, dan siap menghadapi berbagai tantangan hidup.
Meski demikian, kebebasan ini tidak berarti tanpa batas. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang bertanggung jawab dan tetap berada dalam koridor nilai-nilai positif. Dengan demikian, santri tidak terjebak dalam kebebasan yang berlebihan (liberal) atau terikat pada tradisi lama yang tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.
Jiwa kebebasan yang bertanggung jawab inilah yang menjadi bekal santri saat kembali ke masyarakat, baik dalam kehidupan di pondok maupun dalam interaksi sosial di luar pondok.